Postingan

HatiMu Seperti Kapas

Gambar
Ibu sosok tangguh dalam rupa dirimu, rahim surga tempat kami berlindung. Rupa yang tak lekang oleh usia, tak termakan waktu menjemput. Ragamu boleh melelahkan semangatmu, namun pengorbananmu jauh dari kata letih.Sedih silih tak tertatih, saat wajahmu kembali mengkriput, pertanda engkau semakin tua Ibu sosok hati yang paling manis, sosok insan yang paling tersayang. Bayang tak akan hilang walau tak disayang. Rupamu yang tak mampu kugariskan dalam waktu yang sebentar, namun akan lama kudambakan. Ibu terimakasih untuk rahim yang pernah kusinggahi dan mungkin juga pernah kusakiti, tak salah jika ku nilai hatimu selembut kapas.

Cantiknya Abadi

Gambar
Telah mengilang sejarah membawa pesona, anggunmu tak luput dari rindu, cantikmu tak hilang walau tertutup waktu. Dia yang kusebut gadis melawan lupa,duka dan bahkan rupa. Cantiknya abadi, menghilangkan pesona jejaknya ada. Abadi menorehkan rasa, pandai memainkan jiwa. Olehnya aku dibenarkan. Cantiknya abadi, kini malam melintasi cakrawala bernyawa, senyum tertatih pada barisan bintang, walau sejarah tak terhindarkan pesonamu tetap abadi.

Mengapa Harus Aku

Gambar
Perjalanan akan berakhir tiada tara. Menemani waktu yang cukup menguras raga, hampa tertinggal nama. Ingin kusesali, dengan sudut yang kupilih itu. Menjelang masanya, ragaku sekarang rapuh, tertinggal sesal menerpa. Bayangan lalu, hinggap saat mimpi menjemput. Teriaku tak mampu menghalau, telah dan lelah. Mata yang tak dapat ku tipu, menyisakan lembab air yang mengering. Tangisanku, hidupku mengapa harus aku. Sementara untuk kesekian saja, biarkan aku berlalu tanpa ragu, biarkan aku menjamu tanpa kamu, sebab jejak yang kau tinggali hanya membuatku rapuh.🥀

Malamnya Memilukan

Gambar
Semilir hangatnya malam, menampilkan wajah pilu dari garis wajahmu. Yah, kamu dari barisan kata yang berirama rasa, menandakan adanya jejakmu. Jejak yang memilukan, jejak yang sejaknya ada selalu menorehkan luka. Bila lukanya yang tak sanggup kau sembuhkan, kembalikan aku pada lembaran kertas yang pinggirnya berkerut. Berkerut seiring runtuhnya rindu. Barisan jejak pada lembaran putih, kini memilukan duka. Air mata membasahi pipih putihmu, tak ada lagi hangat dan sebatas sapaan, yang mungkin kulimpahkan pada doa tangan yang berkerut.

Menepi Sesaat

Gambar
Menepi meruntuhkan ego yang memuncak, kala waktu menggoresnya lebih luka. Memilih kata tenang jalanya saja terlupakan. Memori memendam sesaat namun perih dan lukanya menyayat. Kembali kujejaki jalan sepi yang dirindui nikmat... Seperti malam yang bercerita tentang mimpi, seolah senyum menghiasi wajah kala mentari menyapa bumi, kukatakan saja itu hanya mimpi. Wajah yang kubalut dengan kabut, seperti hujan saat ini menjama tanah. Lelah tak pelak ku rasa, mendambakan damai kupilih menepi mendamaikan hati.

Kopi Saja Menghangatkan

Gambar
Pagi yang kusiapi hari, sejenak yang penat. Suguhan kopi manis lengkapi hari cukup berarti. Pandangan menderap, matahari yang kian ku capai, lebihnya kunikmati tanpa pamrih... Lelah terlewatkan, lidah yang kelu diaromai suguhan manis, secangkir nikmatnya menghangatkan. Tak pelak bagiku cukup, nikamatnya terukur lewat jalan rasa, yang kutulis dalam memori hati, yah..kurasa cukup. ;)Sarny Gimbuk