Postingan

Menampilkan postingan dari 2021

SEMESTA MERONA NANA TERLENA

Gambar
Nana enggan melepas, sama semestapun demikian. Kau tau?, iringan suara Kaka Ngkiong melibatkan pesona ciptaan lainya untuk tak segera bergegas. Sembari memperkenalkan nama, isyaratkan rasa. Tentang nama yang kelak akan bungkam, segera dan ingin dikejar. Mata Wae, seperti kata alam, sumber dari segala kehidupan utama untuk segera melepas dan menghilangkan dahaga. Ahhhhh... suaramu memecah kesunyian setelah kau dapat. Nana cukup bersyukur, menelaah sembari berdoa dan Amin. Trimakasih Mori,ucapmu kala itu. Nana entah apa riakan yang mencoba tinggalkan keadaan, Nana cukup melulainya dengan sambutan Ioo aku tiba. Cukup mendukung, sepertinya Nana sudah terlena. Lihat pipimu menandakan rona bukan Merona kataku. Senyum manis pada bibir manjamu seringkali meluluhkan setiap detik debit air yang jatuh. Sungguh mempesona...Ia benar kenapa tidak cukup Nana semesta pemeberi rasa dan doa sebagai wujud untuk lamanya waktu. Yeahh cukup.

Memilih Menjadi Lupa

Gambar
Beberapa cerita tidak bisa untuk diulang. Beberapa rasa bahkan menghilang tanpa terduga. Jangan tanya apa, kenapa, dan bagaimana. Sebab, tidak semua hal mengharuskan kamu tahu alasanya. Yang dulu begitu diinginkan justru bisa menjadi begitu ingin dienyahkan. Yang dulu begitu sulit digapai bahkan bisa begitu mudah tercapai. Tampaknya seperti itu pula aku untuk kamu. Dan, bisa jadi seperti itu juga kamu bagiku. Dulu begitu sering bertukar kabar, sekarang bahkan tak saling mengenal. Dulu mengucap sapa adalah sebuah hal yang sederhana, namun, sekarang bahkan lebih rumit dari satu tambah satu. Jadi, dimana letak hal yang pernah berlaku. Sefasih itukah lepas dari genggaman yang pernah ku pegang erat namun dilupakan. Kala. Dari aku yang belajar melupakan.

Usaikah Sudah

Gambar
Kita adalah sepasang tinta bagi kertas- kertas yang haus oleh makna. Kita pernah menari begitu indah diatasnya, membentuk paragraf-paragraf yang berisi tentang kita. Kita pernah menjadi prosa paling syahdu yang dinantikan semesta. Kita adalah rangkaian diksi yang menyenandungkan keutuhan. Namun, kau tiba- tiba kehabisan tinta keyakinan, memilih mengosongkan lembar terakhir. Dan kita berakhir menjadi puisi yang tak ingin dituliskan. Kala

Surgaku Mama

Gambar
Mama, wanita cantik berparas anggun berlipatkan rindu setiap waktu. Mama ciptaan kuasa bagi malaikat pemberi nama , sembari bertanya pada tiap legukan nafas. Mama, mungkin sebagian orang pun tau, kau adalah malaikat setelah Maria ibu Yesus dan benar ku tak mau menolak. Rupamu secantik mutiara, dan kasih sayangmu selembut kapas. Mama, terkesan memewahkan dan terlihat mengagungkan, aku bangga pernah menjadi bagian penghuni rahimmu. Tulus tanpa putus bersujud syukur, mengangkat tangan tuamu berdo'a kepada pemberi...seraya berharap kuat menimang kami menjadi hebat. Keringatmu mungkin hanya alasan agar kau terlihat lelah, tapi itu kau sembunyikan jikalau mereka tidak khawatir. Yahhh...anak- anakmu. Mama ingin kuat dan hebat didepan kami, agar kami menjadi hebat...