Aku Nuca Hau Lale
Suara kaka ngkiong dari bukit itu, membangunkan aku dipagi yang begitu dingin. Dingin menusuk hati yang kutau pagi itu aku masih terlelap tidur berkencan dengan mimpi. Ada begitu banyak mimpi yang kerap kali membuat aku untuk tidak bangun dari tidurku. Semarak angin pagi berhembus pelan, menyiasatkan aku untuk segera mencari biang kehangatan. Kopi sudah kau suguhkan, bersama ubi khas Nuca Lale, daeng teneng. Karna dinginya Ruteng yang tak karuan, aku menelah untuk segera menghangatkan tubuhku bersama leso. Sempurna kataku, sambutan matahari yang terbit dari pelosok kampung Wukir, membawa kehangatan tersendiri bagi aku yang membutuhkan kamu. Nyanyian pagi membawa aku seolah- olah cintaku bersama mata leso terbawa juga sampai moranya di tacik Labuan Bajo. Aku Nuca Kau Lale. Sengaja aku nobatkan padamu Cinta padamu Sayang. Sang pemberi baik, menghadirkan dua nama yang cantik latang enu hi Nuca, dan latang nana hi Lale. Perpaduan dua insan yang akan diikrarkan pad...