Aku Nuca Hau Lale


  Suara kaka ngkiong dari bukit itu, membangunkan aku dipagi yang begitu dingin. Dingin menusuk hati yang kutau  pagi itu aku masih terlelap tidur berkencan dengan mimpi. Ada begitu banyak mimpi yang kerap kali membuat aku untuk tidak bangun dari tidurku. Semarak angin pagi berhembus pelan, menyiasatkan aku untuk segera mencari biang kehangatan. Kopi sudah kau suguhkan, bersama ubi khas Nuca Lale, daeng teneng. Karna dinginya Ruteng yang tak karuan, aku menelah untuk segera menghangatkan tubuhku bersama leso. Sempurna kataku, sambutan matahari yang terbit dari pelosok kampung Wukir, membawa kehangatan tersendiri bagi aku yang membutuhkan kamu. Nyanyian pagi membawa aku seolah-
olah cintaku bersama mata leso terbawa juga sampai moranya di tacik Labuan Bajo.
 Aku Nuca Kau Lale. Sengaja aku nobatkan padamu Cinta padamu Sayang. Sang pemberi baik, menghadirkan dua nama yang cantik latang enu hi Nuca, dan latang nana hi Lale. Perpaduan dua insan yang akan diikrarkan pada sebuah janji Tukar Kila wulang lima, Weda Rewa wulang pa'at. Sebuah sukma bernyawa kasih dengan sebuah ikatan pada Sirih Bongkok, kuat dan tidak di lepas. Lewat itu pula mimpiku dipagi haripun berlanjut, bersama Leso, Kopi,Tete, dan Kamu. Menyatu menjadi satu, dengan berharap nanti Nuca Dan Lale menjadi NucaLale yang dipersatukan lewat runing Nggong agu Gendang dengan semarak nyanyian bahagia, menyambut dua insan yang saling beradu.
  Aku Nuca dan Hau Lale, sebuah nama indah dengan cinta dan sayang, menjadi kita bersama leso awo main mora sale main, tak pernah berubah dan tetap sama. Sebuah isyarat masmur kala aku dan hau menjadi kita.




#Tabe
#SarnyGimbuk


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ikuti Prosedurnya|TUKAR KILA-MASUK MINTA

RAHIT